Tawasul dan Definisi Wasilah
TAWASUL adalah sebuah
aktivitas untuk mengambil sarana atau wasilah agar doa atau ibadah kita dapat
diterima Allah SWT.
Tawasul juga dapat diartikan sebagai sarana
mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya,
beribadah kepada-Nya, mengikuti petunjuk Rasul-Nya dan mengamalkan seluruh
amalan yang dicintai dan diridhai-Nya.
Lebih jelasnya adalah kita melakukan suatu ibadah
dengan maksud mendapatkan keridhaan Allah dan surga-Nya.
Di dalam
mayoritas masyarakat kita masih banyak yang menggunakan tawasul dalam
kehidupannya. Terutama bagi yang menganut mahdzab Imam Syafi’i. Tawassul
menurut bahasa, yakni Al-wasilah berarti segala hal yang dapat menyampaikan dan
mendekatkan kepada sesuatu. Sedangkan menurut istilah yaitu segala hal yang dapat
mendekatkan seseorang kepada Allah SWT yaitu berupa amal kebaikan atau ketaatan
yang disyariatkan. Untuk mengetahui secara lebih rinci, berikut ini kami telah
rangkum jenis dari tawasul serta pengertiannya, yang dilansir dari brilio.
Definisi Wasilah
Asal kata Wasilah adalah wasala [وسل], mashdarnya wasiilatun [وسيلة],
artinya perantara, media atau sarana. Wasilah dalam kajian
Islam, adalah perantara hamba kepada Allah SWT. Jadi, Wasilah itu
sarana agar Hamba terhubung kepada Allah SWT. Dengan wasilah,
ibadah menjadi bernilai dihadapan Allah SWT.
Firman Allah SWT,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Ayat tersebut selain
ajakan untuk bertaqwa juga perintah ber-wasilah bagi orang-orang
beriman. Carilah cara agar ibadah sampai kepada Allah, dalam hal
ini kita diperintahkan untuk berjihad (sungguh-sungguh).
Secara tata bahasa
bentuk ayat diatas adalah perintah وَابْتَغُوا, artinya wajib mencari wasilah dalam
ibadah. Bersungguh-sungguh dalam ber-wasilah agar senantiasa
terjalin komunikasi dengan Allah SWT.
Sejatinya, manusia
beribadah untuk mempersiapkan bekal kembali ke kampung halaman sebenarnya.
Asalnya Nabi Adam dari surga, maka manusia selayaknya menempuh jalan pulang
dengan perangai ahli surga. Bukankah lingkungan sangat menentukan kepribadian
seseorang. Wasilah inilah yang mendekatkan kita pada perangai dan nuansa
surgawi. keindahan beribadah tersebut akan dirasakan ketika ruh akan kembali
kepada Allah SWT.
ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
Pembagian Wasilah:
Pertama, Figur (orang)
para Nabi, Rasul dan para ulama semuanya menjadi wasilah hamba kepada Allah
SWT. Sebab dengan perantaraan mereka hamba bisa mengenal Allah SWT. Dari
perantaraan ulama kita mengenal Nabi Muhammad saw, maka sosok ulama pewaris
nabi merupakan wujud kesempurnaan nikmat Allah SWT kepada umat manusia.
Manusia pilihan Allah
SWT dapat menjadi wasilah bagi umat. Dalam Al Quran
disebutkan:
وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوا أَنفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا
“Sesungguhnya jika
mereka ketika menganiaya diri mereka datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada
Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati
Allah Penerima Taubat lagi Penyayang.” (QS an-Nisa [04]:
64)
Rasulullah saw bersabda,
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ الله عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللّٰهمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ.
Dari Anas bin Malik, Umar bin
Khathab ra ketika kaum muslimin tertimpa kemarau panjang paceklik,
ia meminta hujan dengan berwasilah kepada Abbas bin Abdul Muthalib seraya
berdoa, "Ya Allah, kami meminta hujan kepada-Mu dengan perantaraan Nabi
kami, kemudian Engkau menurunkan hujan kepada kami, dan sekarang kami memohon
kepada-Mu dengan perantaraan paman Nabi kami maka turunkanlah hujan untuk
kami." Anas berkata, "Mereka pun kemudian mendapatkan hujan."
(HR Bukhari)
Ketika hamba mempunyai
banyak kekurangan, doa pun terhijab oleh dosa. Sepatutnya --seperti yang
dicontohkan oleh Umar bin Khathab-- berwasilah kepada pribadi soleh yang akan
menjadi perantara terkabulnya doa.
Kedua, Amal Saleh. Wasilah amal
seperti diceritakan dalam hadis mengenai keadaan tiga orang yang terjebak dalam
gua. Masing-masing dari mereka mengungkapkan amal saleh yang pernah mereka
lakukan untuk dijadikan wasilah permohonan mereka berupa
terbukanya pintu gua. Akhirnya permohonan mereka terkabul.
Sedangkan hadits yang
menjadi landasan tawassul dengan amal perbuatan, sebagaimana disinggung di
depan adalah:
“Abdullah bin Umar
ra berkata: ”Saya telah mendengar Rasulullah saw, bersabda: ”Terjadi pada masa
dulu sebelum kamu, tiga orang berjalan-jalan hingga terpaksa bermalam dalam
gua. Tiba-tiba ketika mereka sedang dalam gua itu, jatuh sebuah batu besar dri
atas bukit dan menutupi gua itu, hingga mereka tidak dapat keluar. Maka berkata
mereka: “Sungguh tiada suatu yang dapat menyelamatkan kami dari bahaya ini,
kecuali jika tawassul kepada Allah dengan amal-amal saleh yang
pernah kamu lakukan. Maka berkata seorang dari mereka: ”Ya Allah dulu saya
mempunyai ayah dan ibu, dan saya biasa tidak memberi memberi minuman
susu pada seorang pun sebelum keduanya (ayah-ibu), baik pada keluarga atau
hamba sahaya, maka pada suatu hari agak kejauhan bagiku mengembalakan ternak,
hingga tidak kembali pada keduanya, kecuali sesudah malam dan ayah bundaku
telah tidur. Maka saya terus memerah susu untuk keduanya dan saya pun
segan untuk membangun keduanya, dan sayapun tidak akan memberikan minuman itu
kepada siapapun sebelum ayah bunda itu. Maka saya tunggu keduanya hingga terbit
fajar, maka bangunlah keduanya dan minum dari susu yang saya perahkan itu. Padahal
semalam itu anak-anakku menangis minta susu itu, di dekat kakiku. Ya
Allah jika saya berbuat itu benar-benar karena mengharapkan keridhaan-Mu, maka
lapangkanlah keadaan kami ini. Maka menyisih sedikit batu itu, hanya saja
mereka belum dapat keluar daripadanya.
Berdoa yang kedua: “Ya
Allah dulu saya pernah terikat cinta kasih pada anak gadis pamanku, maka karena
cinta kasihku, saya selalu merayu dan ingin berzina padanya, tetapi ia selalu
menolak hingga terjadi pada suatu saat ia menderita kelaparan dan datang minta
bantuan kepadaku, maka saya berikan padanya uang seratus duapuluh dinar,
tetapi dengan janji bahwa ia akan menyerahkan dirinya kepadaku pada malam
harinya. Kemudian ketika saya telah berada diantara kedua kakinya, tiba – tiba
ia berkata: ”Takutlah kepada Allah dan janganlah engkau pecahkan tutup kecuali
dengan halal. Maka saya segera bangun daripadanya padahal saya masih tetap
menginginkanya, dan saya tinggalkan dinar mas yang telah saya berikan kepadanya
itu Ya Allah jika saya berbuat itu benar – benar karena mengharapkan
keridhaan-Mu, maka lapangkanlah keadaan kami ini. Maka bergerklah batu itu,
menyisih sedikit tetapi mereka belum dapat keluar daripadanya.
Berdoa yang
ketiga: ”Ya Allah, saya dulu sebagai majikan, mempunyai banyak buruh pegawai,
dan pada suatu hari ketika saya membayar upah buruh-buruh itu, tiba-tiba ada
seorang dari mereka yang tidak sabar menunggu, segera ia pergi meninggalkan
upah dan terus pulang ke rumahnya tidak kembali. Maka saya gunakan upah itu
hingga berkembang dan berbuah hingga merupakan kekayaan. Kemudian setelah lama
sekali datanglah buruh itu dan berkata: “Hai Abdullah, berikan kepadaku upahku
dulu itu?” Jawabku,” Semua kekayaan yang kamu lihat di depanmu itu; mulai unta,
sapi dan kambing itu adalah upahmu”. Buruh itu berkata,”Wahai Abdullah, kamu
jangan mengejekku” Jawabku , ”Aku tidak mengejek kepadamu”. Maka diambilnya
semua yang saya sebut itu dan tidak meninggalkan sedikitpun darinya. Ya Allah
jika saya berbuat itu benar-benar karena mengharapkan keridhaan-Mu, maka
lapangkanlah keadaan kami ini. Tiba-tiba menyisihlah batu itu, hingga mereka
keluar dengan selamat” (HR Bukhari – Muslim )
WASILAH SEBAGAI TUMPUAN
Ketika para sahabat
nabi saw diliputi perasaan cemas, apakah amal ibadah yang dilakukan diterima
atau tidak oleh Allah. Rasulullah saw menyampaikan tanda amal yang diterima
oleh Allah.
Pertama, Amalan hati,
dimana hati senantiasa tersambung kepada Allah ketika mengerjakan amal ibadah.
Kedua, mengikuti sunnah
Nabi dan para ulama. Hatinya pun mengikuti Nabi yaitu khusyu, tersambung dan
ikhlas kepada Allah.
Ketiga, Kalimat Allah.
Berupa kalimat-kalimat zikir yang berkhasiat dan keutamaan. Banyak para ulama
yang menyusun wirid seperti Imam an-Nawawi dalam kitab al-Azkar bahkan ada
ulama yang menyusun zikir khusus untuk perlindungan. Zikir adalah kalimah untuk
membentengi, maka wasilah dengan dibacanya kalimah Allah yang sempurna membuat
Allah menurunkan pertolongan kepada hambanya.
مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَالَ أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التآمَّاتِ كُلِّهَا مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذالِكَ
“Barang siapa yang
datang ke suatu tempat, kemudian menyebutkan A’uudzu bikalimaatillaahit
taammaati kullihaa min syarri maa kholaq, niscaya tidaklah membahayakan dia
oleh sesuatu, sehingga ia berangkat dari tempatnya itu.
Dengan demikian Fungsi
wasilah sebagai sarana Mendekatkan diri kepada
Allah SWT. Wasilah adalah tumpuan untuk menyampaikan permohonan kepada Allah
SWT. Di sisi lain, wasilah adalah instrumen untuk memperkenalkan Allah SWT dan
agamaNya. Seorang hamba yang merendah di hadapan Rabb-Nya, dengan sendirinya
akan mendatangkan ampunan Allah SWT.

Komentar
Posting Komentar